Memahami “Two-State Solution”, Solusi Israel-Palestina yang Dilanggar Trump

Konflik yang terjadi di antara Israel dan Palestina belum menampakkan tanda-tanda akan berakhir meski sudah berlangsung selama beberapa dekade. Perdamaian diantara keduanya bahkan terasa semakin jauh saat berita terbaru menyebutkan Presiden Amrika Serikat, Donald Trump, justru menyatakan akan mengakui Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel. Seperti yang telah kita ketahui, selama ini Yerussalem merupakan kota yang paling diperebutkan oleh kedua negara tersebut.

Selama ini, konflik antara Israel dan Palestina diyakini bisa diselesaikan melalui two-state solution, yaitu sebuah sistem yang memungkinkan untuk mengakui kedua negara tersebut sebagai negara yang sama-sama berdaulat. Jika dilihat secara sederhana, konflik Israel dan Palestina bisa digambarkan sebagai dua orang yang sedang berebut wilayah. Pada dasarnya two state-solution bisa mendudukan Israel dan Palestina agar berdiri sebagai negara yang memiliki kedaulatannya masing-masing dan berdiri secara berdampingan. Gagasan two-state solution memperoleh banyak dukungan dari berbagai pihak termasuk PBB. Pihak-pihak yang mendukung solusi ini meyakini bahwa kemenangan untuk kedua belah pihak bisa menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan menyengsarakan masing-masing rakyatnya. Dengan gagasan ini, Israel bisa tetap menjadi negara Yahudi demokratis, sedangkan Palestina bisa memiliki wilayahnya dan kedaulatannya sendiri.

Pada kenyataannya, menjalankan praktik two-state solution tidak semudah kelihatannya. Solusi ini terganjal masalah garis perbatasan Israel dan Palestina yang memiliki versinya masing-masing. Ditambah dengan langkah unilateral Israel yang membangun tembok perbatasan dan perumahan warga di wilayah Tepi Barat, situasi ini menjadi semakin buruk untuk kedua belah pihak. Wilayah Tepi Barat juga diklaim Palestina sebagai wilayah mereka, sehingga pembangunan tembok dan perumahan warga Israel memicu reaksi keras warga Palestina. Selain Tepi Barat, Yerussalem juga menjadi salah satu wilayah yang diperebutkan oleh Israel dan Palestina. Yerussalem memiliki peran penting untuk kedua negara tersebut, sehingga mereka sama-sama mengklaim Yerussalem sebagai ibu kota dan pusat kegiatan beragama mereka. Karena itulah, keputusan Trump untuk mengakui Yerussalem sebagai Ibu kota Israel dapat mengancam agenda perdamaian kedua negara tersebut.

Perwakilan pemerintah Palestina di Washington, Husam Zomlot, mengatakan bahwa keputusan yang diambil Trump akan melahirkan konsekuensi yang sangat buruk, bahkan mengakhiri gagasan two-state solution, sebab Yerussalem adalah inti dari gagasan tersebut.